Daripada Abu Hurairah , bahawasanya Rasulullah SAW bersabda,
Pelajarilah ilmu,pelajarilah ilmu ketenangan dan kesopanan, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang yang kamu ambil ilmunya.
Amreel Nuqman
Sunday, 1 October 2017
BAGAIMANA CARA BERHENTI DARI TERUS BERMAKSIAT
Suatu hari, Ibrahim bin Adham didatangi oleh seseorang yang sudah sekian lama hidup dalam kemaksiatan, sering mencuri, selalu menipu, dan tak pernah bosan berzina. Orang ini mengadu kepada Ibrahim bin Adham,
“Wahai tuan guru, aku seorang pembuat dosa yang rasanya tak mungkin boleh lari dari perlakuan maksiat. Tolong tunjukkan aku seandainya ada cara untuk menghentikan semua perbuatan tercela ini?”
Ibrahim bin Adham menjawab,
“Kalau kamu boleh berpegang pada lima hal ini, nescaya kamu akan dijauhkan dari segala perbuatan dosa dan maksiat.
Pertama, jika kamu ingin berbuat dosa dan maksiat, maka usahakanlah agar Allah jangan sampai melihat perbuatanmu itu.”
Orang itu terperanjat,
“Bagaimana mungkin, Tuan guru, bukankah Allah sentiasa melihat apa saja yang diperbuat oleh siapapun? Allah pasti tahu walaupun perbuatan itu dilakukan dalam bilik persendirian, di bilik yang gelap, bahkan di lubang semut pun.”
Wahai anak muda, kalau yang melihat perbuatan dosa dan maksiatmu itu adalah jiran kamu, kawan dekatmu, atau orang yang kamu hormati, apakah kamu akan meneruskan perbuatanmu? Tetapi mengapa dengan Allah kamu tidak malu, sedang Dia melihat apa yang kamu buat?”
Orang itu lalu tertunduk dan berkata,
“katakanlah yang kedua, Tuan guru!”
Kedua, jika kamu ingin melakukan dosa dan maksiat, hendaklah kamu makan rezeki yang datang bukan datang dari Allah.”
Pendosa itu kembali terperanjat,
“Mana boleh, Tuan guru, bukankah semua rezeki yang ada di sekeliling manusia adalah dari Allah semata? Bahkan, air liur yang ada di mulut dan tenggorokanku adalah dari Allah jua.”
Ibrahim bin Adham menjawab,
“Wahai anak muda, masih mahukah kita makan rezeki Allah sementara setiap saat kita melanggar perintahNya dan melakukan laranganNya? Kalau kamu menumpang makan kepada seseorang, sementara setiap saat kamu selalu mengecewakannya dan dia melihat perbuatanmu, masihkah mampu dan tidak malu untuk terus makan darinya?”
“Sekali-kali tidak! Katakanlah yang ketiga, Tuan guru.”
Ketiga, kalau kamu ingin membuat dosa dan maksiat, carilah bumi lain , janganlah kamu tinggal lagi di bumi Allah.”
Orang itu tersentak,
“Bukankah semua tempat ini adalah milik Allah, Tuan guru? Bahkan, segenap planet, bintang dan langit adalah milikNya juga?”
Ibrahim bin Adham menjawab,
“Kalau kamu pergi ke rumah seseorang, menumpang makan dari semua miliknya, adakah kamu tidak merasa malu untuk memperlekeh aturan-aturan tuan rumah itu sementara dia selalu tahu dan melihat apa yang kamu lakukan?”
Orang itu kembali terdiam, air mata menitis perlahan dari kelopak matanya lalu berkata,
“Katakanlah yang keempat, Tuan guru.”
Keempat, jika kamu masih ingin berbuat dosa dan maksiat, dan pada saat malaikat maut datang untuk mencabut nyawamu sebelum kamu bertaubat, tolaklah dia dan janganlah biarkan nyawamu dicabut olehnya.”
Bagaimana mungkin, Tuan guru? Bukankah tak seorang pun mampu menolak datangnya malaikat maut?”
Ibrahim bin Adham menjawab,
“Kalau kamu tahu begitu, mengapa masih mahu berbuat dosa dan maksiat? Tidakkah terpikir olehmu, jika suatu saat malaikat maut itu datang justru ketika kamu sedang mencuri, menipu, berzina dan melakukan dosa lainnya?”
Air mata menitis semakin deras dari kelopak mata orang tersebut, kemudian ia berkata,
“Wahai tuan guru, katakanlah hal yang kelima.”
Kelima, di akhirat nanti jika malaikat neraka ingin mengheretme ke dalam neraka. Janganlah kamu mengikutinya, cubalah lari darinya.”
Pemuda itupun berkata,
“Bagaimana mungkin seseorang boleh lari dari malaikat neraka yang luarbiasa kekuatannya Tuan Guru ?
Ibrahim bin Adham pun lalu berkata,
“Oleh kerana hidup hanya sekali anak muda, dan kita tak pernah tahu bila maut akan menjemput kita, sementara semua yang telah diperbuat pasti akan kita pertanggung jawabkan di akhirat kelak, apakah kita masih akan mensia-siakan hidup ini hanya untuk menambah dosa dan maksiat?”
Pemuda itu pucat menahan ledakan tangis dia menghiba,
“Cukup, Tuan guru, aku tak sanggup lagi mendengarnya.”
Lalu ia pun bangun dan pergi meninggalkan Ibrahim bin Adham. Dan sejak saat itu, orang-orang mengenalnya sebagai seorang ahli ibadah yang jauh dari perbuatan-perbuatan tercela.
#fbustazIqbalZain
“Wahai tuan guru, aku seorang pembuat dosa yang rasanya tak mungkin boleh lari dari perlakuan maksiat. Tolong tunjukkan aku seandainya ada cara untuk menghentikan semua perbuatan tercela ini?”
Ibrahim bin Adham menjawab,
“Kalau kamu boleh berpegang pada lima hal ini, nescaya kamu akan dijauhkan dari segala perbuatan dosa dan maksiat.
Pertama, jika kamu ingin berbuat dosa dan maksiat, maka usahakanlah agar Allah jangan sampai melihat perbuatanmu itu.”
Orang itu terperanjat,
“Bagaimana mungkin, Tuan guru, bukankah Allah sentiasa melihat apa saja yang diperbuat oleh siapapun? Allah pasti tahu walaupun perbuatan itu dilakukan dalam bilik persendirian, di bilik yang gelap, bahkan di lubang semut pun.”
Wahai anak muda, kalau yang melihat perbuatan dosa dan maksiatmu itu adalah jiran kamu, kawan dekatmu, atau orang yang kamu hormati, apakah kamu akan meneruskan perbuatanmu? Tetapi mengapa dengan Allah kamu tidak malu, sedang Dia melihat apa yang kamu buat?”
Orang itu lalu tertunduk dan berkata,
“katakanlah yang kedua, Tuan guru!”
Kedua, jika kamu ingin melakukan dosa dan maksiat, hendaklah kamu makan rezeki yang datang bukan datang dari Allah.”
Pendosa itu kembali terperanjat,
“Mana boleh, Tuan guru, bukankah semua rezeki yang ada di sekeliling manusia adalah dari Allah semata? Bahkan, air liur yang ada di mulut dan tenggorokanku adalah dari Allah jua.”
Ibrahim bin Adham menjawab,
“Wahai anak muda, masih mahukah kita makan rezeki Allah sementara setiap saat kita melanggar perintahNya dan melakukan laranganNya? Kalau kamu menumpang makan kepada seseorang, sementara setiap saat kamu selalu mengecewakannya dan dia melihat perbuatanmu, masihkah mampu dan tidak malu untuk terus makan darinya?”
“Sekali-kali tidak! Katakanlah yang ketiga, Tuan guru.”
Ketiga, kalau kamu ingin membuat dosa dan maksiat, carilah bumi lain , janganlah kamu tinggal lagi di bumi Allah.”
Orang itu tersentak,
“Bukankah semua tempat ini adalah milik Allah, Tuan guru? Bahkan, segenap planet, bintang dan langit adalah milikNya juga?”
Ibrahim bin Adham menjawab,
“Kalau kamu pergi ke rumah seseorang, menumpang makan dari semua miliknya, adakah kamu tidak merasa malu untuk memperlekeh aturan-aturan tuan rumah itu sementara dia selalu tahu dan melihat apa yang kamu lakukan?”
Orang itu kembali terdiam, air mata menitis perlahan dari kelopak matanya lalu berkata,
“Katakanlah yang keempat, Tuan guru.”
Keempat, jika kamu masih ingin berbuat dosa dan maksiat, dan pada saat malaikat maut datang untuk mencabut nyawamu sebelum kamu bertaubat, tolaklah dia dan janganlah biarkan nyawamu dicabut olehnya.”
Bagaimana mungkin, Tuan guru? Bukankah tak seorang pun mampu menolak datangnya malaikat maut?”
Ibrahim bin Adham menjawab,
“Kalau kamu tahu begitu, mengapa masih mahu berbuat dosa dan maksiat? Tidakkah terpikir olehmu, jika suatu saat malaikat maut itu datang justru ketika kamu sedang mencuri, menipu, berzina dan melakukan dosa lainnya?”
Air mata menitis semakin deras dari kelopak mata orang tersebut, kemudian ia berkata,
“Wahai tuan guru, katakanlah hal yang kelima.”
Kelima, di akhirat nanti jika malaikat neraka ingin mengheretme ke dalam neraka. Janganlah kamu mengikutinya, cubalah lari darinya.”
Pemuda itupun berkata,
“Bagaimana mungkin seseorang boleh lari dari malaikat neraka yang luarbiasa kekuatannya Tuan Guru ?
Ibrahim bin Adham pun lalu berkata,
“Oleh kerana hidup hanya sekali anak muda, dan kita tak pernah tahu bila maut akan menjemput kita, sementara semua yang telah diperbuat pasti akan kita pertanggung jawabkan di akhirat kelak, apakah kita masih akan mensia-siakan hidup ini hanya untuk menambah dosa dan maksiat?”
Pemuda itu pucat menahan ledakan tangis dia menghiba,
“Cukup, Tuan guru, aku tak sanggup lagi mendengarnya.”
Lalu ia pun bangun dan pergi meninggalkan Ibrahim bin Adham. Dan sejak saat itu, orang-orang mengenalnya sebagai seorang ahli ibadah yang jauh dari perbuatan-perbuatan tercela.
#fbustazIqbalZain
Sunday, 17 September 2017
Lirik Lagu Dengarilah by 4AITH memang mendalam
Lirik Lagu Dengarilah by 4AITH
(Aniq)
Aku pernah
Dengar cerita
Tentang dunia
Akhir zaman ini
Betapa situasi kita diuji
Oh, teman…
Manusia terus buntu
Kebenaran tak bersatu
Dan agama
Direndahi dan dihina
Hina…
Kita terus bergaduh
Sesama sendiri
Musuh bersatu
Terus menghancuri
Hingga kita terus hanyut
Dengan dosa tanpa resah!
Keliru hak batil!
Dan arah tuju!
(Amir)
Oh! Ku,
Kadangku bertanya pada diriku
Sumbangan apa yang ku mampu laku?
Cara apa lagi yang terbaik teman?
Oh yeah,
Ya, mungkin kau rasa ini semua normal
Kau mungkin rasa takkan dipersoal
Lalu kau diam terus berpeluk tubuh…
(Aniq)
Dengarilah…
Perjuangan dakwah ini bukan mudah
Namun bukan alasan berpaling tadah
Walaupun kau ditentang kau terus tabah!
Dengarilah…
Jangan terpesona dengan putus asa
Dan terpengaruh fatamorgana dosa
Segeralah kau pinta pada Yang Esa!
(Firdaus)
Oh, tidakkah kau
Berduka melihat ummah ini?
Terus dipijak dan dihentak
Terpedaya dengan musuh!
Zina riba judi arak
Rasuah berleluasa
Dosa kecil dosa besar
Bagi mereka sama sahaja!
(Fahmi)
Oh, jiwa kau mula kelam bila
Hati turut hitam bila
Sanubari suram bila
Dan iman terbungkam bila
Kau sanggup bermaksiat
dengan tenang berjam-jam
Namun ibadah kau tak mampu
untuk berjam-jam!
Kau buka aurat tak rasa bersalah
bahkan bangga,
Buka buka buka tuk
mengejar pujian dan nama
Yang menutup aurat
pula selfie sini sana
Dan ada tak jaga
pandangan mata!
(Amir) 2x
Tenanglah tenanglah
Ku bukan menghukum
Ku hanya menegur
Untuk kau dan aku
Ku bukan sempurna
Ku hanya mengajak
Dengan harapan
Kau aku kan ke syurga
(Aniq)
Dengarilah…
Perjuangan dakwah ini bukan mudah
Namun bukan alasan berpaling tadah
Walaupun kau ditentang kau terus tabah!
Dengarilah…
Jangan terpesona dengan putus asa
Dan terpengaruh fatamorgana dosa
Segeralah kau pinta pada Yang Esa!
(Firdaus)
Oh, tidakkah kau
Berduka melihat ummah ini?
Terus dipijak dan dihentak
Terpedaya dengan musuh!
Zina riba judi arak
Rasuah berleluasa
Dosa kecil dosa besar
Bagi mereka sama sahaja!
(Aniq)
Dengarilah…
Perjuangan dakwah ini bukan mudah
Namun bukan alasan berpaling tadah
Walaupun kau ditentang kau terus tabah!
(Amir)
Tenanglah tenanglah
Ku bukan menghukum
Ku hanya menegur
Untuk kau dan aku
(Firdaus)
Dengarilah wahai teman…
Hayati dan fahamilah…
(Amir)
Tenanglah tenanglah
Ku bukan menghukum
Ku hanya menegur
Untuk kau dan aku
(Firdaus)
Dosa kecil dosa besar…
(Fahimi)
Wahai teman sampai bila?
(Aniq)
Dengarilah…
Subscribe to:
Posts (Atom)